SP07h2xosbbkqVeFtGDx6IHrN3J20p9OptU54Mu3

WHY GREEN BUILDING ?

WHY GREEN BUILDING ?

Suhu bumi tiap tahunnya meningkat sebesar rat-rata 0.74 ± 0.18 °C naiknya suhu bumi tersebut menandakan bahwa saat ini pemanasan global telah terjadi (Utina, 2009). Pemanasan global menjadi cikal bakal terjadi perubahan iklim yang sangat memberikan dampak terhadap kehidupan di permukaan bumi seperti banjir, badai, kekeringan, dan lainlain. PBB dalam hal ini telah membuat perjanjian bersama dengan negara anggotanya untuk mengendalikan perubahan iklim yang disebut paris agreement yang membatasi pemanasan global hingga maksimum 2 derajat Celcius hingga tahun 2100 (Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2016). 


Tempat tinggal yang merupakan kebutuhan primer bagi manusia akan terus meningkat, hal ini berkontribusi atas naik atau turunnya suhu bumi. Apabila dibuat dengan baik tentu dapat berktrobusi dalam penurunan atau menstabilkan suhu bumi, tapi apabila tidak maka akan membantu meningkatkan suhu bumi.  Bangunan di Amerika Serikat bertanggung jawab atas 72% penggunaan listrik, 39% penggunaan energi, 35% emisi karbon dioksida (CO2), 30% sampah, dan 14% penggunaan air (Kevin, 2018). Oleh karena itu dibuatlah konsep untuk pembangunan berkelanjutan yang sebut green building.


Green building adalah bangunan yang cerdas mengelola konsumsi energi dan kenyamanan huniannya. Implementasi dari green building memberikan keuntungan antara lain penghematan energi dan air serta  mengurangi limbah, polusi dan degradasi lingkungan.


Konsep green buildingpada dasarnya bertujuan untuk menghemat pemakaian energi pada bangunan bertingkat komersial secara umum. Pada skala nasional, pemerintah mendorong pemilik bangunan komersial untuk menggunakan bangunan yang ramah lingkungan, menghemat energi untuk mendukung program green building. Strategi green building dapat dicapai dari lima tahapan Go Green (Triwidiastuti, 2017) diantaranya adalah: 

  1. Mengurangi konsumsi sumber daya (energi dan air). 
  2. Mengurangi limbah dan melakukan upaya daur ulang. 
  3. Material bangunan (meniadakan material berbahaya, memilih material yang ramah lingkungan, mempergunakan material yang tidak menyebabkan lubang pada ozon). 
  4. Lingkungan di dalam bangunan (kualitas udara, suhu ruang, pemeliharaan AC dan saluran udara).  
  5. Kepedulian penghuni/pemakai bangunan (komunikasi antara pemilik dan penghuni/pemakai bangunan). Komunikasi ini sangat penting sebagai upaya mengurangi dampak lingkungan yang bersifat negatif. Sebagai contoh, apabila pemilik bangunan akan  mengubah sistem AC atau pembuangan limbah, pemilik bangunan harus dikomunikasikan dengan penghuni/pemakai terlebih dahulu, supaya hasilnya efektif.   


Implimentasi green building dalam menghemat energi dan air tidak perlu mengorbankan kenyamanan dan produktivitas akibat penggunaan produk hemat energi. Green building mengedepankan pemakaian energi menjadi efisien, suasana lingkungan lebih sehat, melestarikan sumber daya alam, dan meningkatkan kualitas udara. Selain itu fokus dari pemanfaatan air untuk mengembangkan sistem pengurangan pemakaian air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur ulang buangan air bersih (recycle), dan pengisian kembali air tanah (recharge).


Pada aspek dalam mengurangi limbah, polusi dan degradasi lingkungan dilakukan dengan cara penggunaan kembali dalam proses konstruksi dan meminimalisir penggunaan bahan baku baru dalam penggunaannya. Selain itu polusi dan degradasi lingkungan dapat diawasi dengan melakukan inventarisasi vegetasi yang terpengaruh dan digunakan dalam proses pembangunan. Dengan penerapan green building dapat menghemat penggunaan energi listrik dan air serta mengurangi limbah, polusi dan degradasi lingkungan untuk menciptakan bangunan yang nyaman, aman dan sehat serta ramah lingkungan. Dengan penerapan green building dapat membantu dalam mengendalikan kenaikan suhu yang berkontribusi dalam menyebabkan perubahan iklim. 



Daftar Pustaka

Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2016). PERUBAHAN IKLIM, PERJANJIAN PARIS, DAN NATIONALLY DETERMINED CONTRIBUTION. Jakarta.

Kevin, G. (2018). Analisis Tantangan dan Manfaat Bangunan Hijau. Surabaya: Universitas Kristen Petra.

Triwidiastuti, S. E. (2017). MODEL GREEN BUILDING DI INDONESIA BERBASIS KONSEP KUALITAS DMAIC SIX SIGMA. Tangeran Selatan: Universitas Tebuka.

Utina, R. (2009). PEMANASAN GLOBAL: Dampak dan Upaya Meminimalisasinya . Gorontalo: Universitas Negeri Gorontalo.

 

 


Related Posts
Ahmad Amiruddin
Saat ini mengambil jurusan Teknik Lingkungan di Universitas Pertamina. Seorang yang sangat menyukai membahas isu-isu yang ada di masyarakat utamanya mengenai masalah lingkungan. Selain mengenai lingkungan, juga tertarik dengan platform minyak dan gas serta desain. "VI VERI VENI VERSUM VIVUS VICI"

Related Posts

Posting Komentar